Ingin Membuat Rumah Sendiri? Lakukan Persiapan Berikut Ini

Setiap orang bermimpi untuk memiliki rumah sendiri. Dihuni bersama keluarga kecilnya. Membangun rumah bisa menggunakan jasa kontraktor atau membangun sendiri. Jika ingin membuat rumah sendiri, tentunya ada banyak hal yang harus dipikirkan. Seperti mencari tukang bangunan, pembelian bahan bangunan, desain rumah dan masih banyak lainnya. Keuntungan membangun rumah sendiri, anda bisa berkreasi sendiri. Selain itu biaya yang dikeluarkan lebih terjangkau. Tetapi sebelum membangun rumah sendiri, coba perhatikan hal berikut ini:

Estimasi, Gambaran dan Mentor

Membangun sebuah rumah tidak semudah yang dipikirkan, dibutuhkan keahlian khusus. Sebelum memulainya, anda harus memikirkan semuanya dengan sebaik mungkin. Hitung estimasi biaya yang harus dikeluarkan. Gambaran desain rumah dan carilah mentor yang membantu anda. Buatlah gambaran rumah di sebuah kertas, sesuaikan dengan kebutuhan anda. Kalau perlu carilah mentor yang sudah ahli dibidangnya. Kemudian tanyakan hal apa saja yang dibutuhkan dalam membangun rumah layak huni.

Izin Mendirikan Bangunan

Jangan pernah lupakan izin mendirikan bangunan. Izin legalitas ini sangat dibutuhkan, bila anda tidak ingin mengalami masalah nantinya. Izin ini diberikan oleh pemerintahan daerah kepada pemilik bangunan. Dengan adanya ijin ini, anda diijinkan untuk membangun, memperluas, mengubah merawat dan lainnya pada bangunan yang dimiliki. Cari tahu syarat yang dibutuhkan kemudian buat segera mungkin, sebelum proses pembangunan rumah di mulai.

Perencanaan dan Target Pembangunan

Saat membuat rumah, anda tidak boleh sembarangan. Harus direncanakan dengan sebaik mungkin. Buatlah target pembangunan, supaya tujuan tercapai dan biaya yang dikeluarkan tidak banyak. buatlah target apa yang ingin anda buat, kemudian rencanakan prosesnya untuk mencapai target pembangunan. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Seperti apa kebutuhan anda? Kemampuan keuangan? Rencana utama, rencana cadangan dan masih banyak lainnya. Bila dana minim, anda bisa membuat jangka waktu Panjang. Jadi membangun rumah secara bertahap.

Perencanaan Keuangan

Tidak hanya perencanaan pembangunan yang harus dipikirkan, tetapi juga perencanaan keuangan. Buatlah perencanaan dengan sebaik mungkin. Buat sesuai kemampuan anda. Jangan paksakan membangun rumah yang tidak sesuai kemampuan. Sampai akhirnya harus berhutang banyak. jika hutang terlalu banyak, akan mempengaruhi keuangan anda di masa depan. Selanjutnya buat keuangan dengan detail. Berapa besar dana yang digunakan untuk konstruksi, pajak bangunan, furniture dan masih banyak lainnya.jangan lupa untuk menyiapkan dana tak terduga.

Lahan Bangunan

Membangun rumah tanpa sebuah lahan tentunya tidak akan tercapai. Pikirkan lokasi tanah dengan sebaik mungkin. Seperti letak lokasi tanah, luas tanah, harga tanah dan masih banyak lainya. Belilah tanah yang sesuai kemampuan. Selain itu pilih lokasi yang tidak rawan bencana. Misalnya di dekat tebing tinggi, rawan banjir dan masih banyak lainnya.

Tim Pembangunan Rumah

Selanjutnya pikirkan siapa yang akan membangun rumah. Tidak mungkin anda membangun rumah sendiri tanpa bantuan orang lain. Anda membutuhkan tim profesional, supaya hasil bangunan lebih kokoh dan bagus. Pilihlah tukang bangunan yang berpengalaman. Bila dana anda minim, buatlah desain rumah sendiri. Tetapi bila memiliki dana cukup, sewalah jasa konstruksi profesional.

Memang ada banyak hal yang harus dipikirkan dalam membangun rumah. Bila tidak ada perencanaan yang matang, mungkin rumah tidak akan jadi 100%. Misalnya dana habis di tengah jalan, pemilihan bahan bangunan yang salah dan lainnya. Sebelum membuat rumah sendiri, pastikan untuk persiapkan mental anda. Jangan takut untuk meminta bantuan dan nasehat orang lain.

Deskripsi: membuat rumah sendiri dibutuhkan keberanian. Harus membuat perencanaan yang matang supaya rumah bisa jadi seutuhnya.

Desain Rumah Ini “Menggantung” di Dekat Bukit

Matt Thitchener Architect membuat desain “The Studio”, sebuah ruang apartemen multifungsi yang dibangun seakan “menggantung” di sisi lembah. Rumah di North Avoca, Australia ini sebenarnya merupakan blok miring yang terletak di belakang bangunan utama. Akses ke tempat ini sangat terbatas, hanya bisa melalui tangga yang terbuat dari baja galvanis. Melansir dari laman Matt Thitchener, menghadap laut Pasifik, tempat ini dibangun sebagai ruang untuk meditasi, bekerja, sekaligus hiburan. Strukturnya dibangun dari dua pilar beton, yang mendukung bangunan di depan. Blok apartemen ini juga dilengkapi dengan struktur ganda pilar-pilar baja yang menopang keseluruhan bangunan. Sementara bagian belakang diletakkan balok pengikat. Secara keseluruhan konsep rumah ini mirip dengan rumah panggung. Bahkan karena kondisi struktur tanah yang miring, sehingga memerlukan desain pondasi yang sesuai. Desain yang baik meminimalisir penggunaan pondasi dan juga mengurangi biaya dengan membagi beban menjadi dua jalur ke bawah. Di dalam rumah, terdapat sebuah ruangan luas tanpa sekat yang menyajikan pemandangan 180 derajat lingkungan rumah. Dari ruangan ini pula terlihat hamparan laut yang dapat dinikmati oleh pemilik rumah. Rumah ini memiliki pintu kaca geser dari dinding dan lantai ke arah langit-langit yang mengarah ke balkon.
Meski terbuat dari kaca, namun pintu ini juga mampu melindungi ruangan dari badai dan angin kencang. Bangunan ini juga dilengkapi dengan kamar mandi, bar, serta ruang kerja. Meski terbuka dengan pintu dan jendela kaca yang besar, namun ruangan ini dilengkapi dengan tirai besar yang menjaga privasi penghuninya, sekaligus membuat tampilan dalam ruangan terlihat lebih menentramkan. Penerangan juga diatur agar cahaya mampu tersebar ke seluruh bagian ruangan. Sepanjang sisi Utara rumah, jendela bi-fold terpasang sehingga penghuni dapat langsung merasakan suasana lingkungan sekitar.

Berbagai Rumah Jawa, Simbol Status Sosial

mencerminkan status sosial keluarga penghuninya. Bagi masyarakat Jawa rumah merupakan tempat untuk menampilkan kreasi dan seni. Seni bangunannya telah melewati beberapa zaman, seperti zaman Mataram-Hindu, Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang dan berakhir pada zaman Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Harian Kompas, 17 Juli 1983 menyebutkan, untuk mendirikan sebuah rumah, meski rumah tersebut kecil dan sederhana, masyarakat Jawa akan memikirkan soal letak tanah. Dulu, dalam kepercayaan Jawa, masyarakat selalu membuat kamar dengan jumlah ganjil. Sebab jika kamar berjumlah genap, akan mendatangkan malapetaka. Namun kini kepercayaan tersebut perlahan sudah mulai terkikis. Bangunan tradisional Jawa memiliki banyak ragam, mulai dari yang paling sederhana hingga bangunan yang tergolong mewah, yakni Panggangpe, Kampung, Limasan, Joglo, dan Tajug. Rumah Panggangpe Merupakan bentuk rumah paling sederhana, bahkan bisa dibilang yang paling rendah. Bangunan terdiri dari denah bujur sangkar atau persegi empat. Tiang penyangga bisa empat, enam, delapan, bahkan bisa lebih dari itu. Untuk atap rumah terdiri dari satu sisi yang letaknya dibuat miring. Namun pada masa mendatang, rumah model ini bisa dikembangkan dengan menambah ukuran panjang atau lebar rumah. Karena itu bentuk panggangpe bisa menjadi panggangpe trajumu, gedang salirang, gedung setangkep, cere gancet, kios, empyak setangkep, kodokat. Bentuk rumah panggangpe bisa diperluas dan diberi penambahan. Model rumah ini masih bisa disaksikan di penginapan, pabrik, pasar, dan lain sebagainya. Bentuk Kampung Bentuk rumah rakyat yang paling sering dijumpai karena harganya yang terjangkau dan juga irit bahan. Rumah ini terdiri dari bujur sangkar bersegi empat dengan tiang berjumlah empat, enam, delapan, atau bisa lebih. Seperti rumah model panggangpe, rumah model kampung juga memiliki kamar dengan jumlah ganjil. Atapnya sendiri memiliki dua sisi, sebelah menyebelah, sehingga membentuk hubungan. Pada kiri dan kanannya disebut tutup keyong. Kerangka pada bangunan model ini terdiri dari tiang, blandar, penegret, sundut, ander, dan molo. Ada pula usuk dan reng. Bentuk bangunan ini bisa berkembang menjadi berbagai model seperti bentuk kampung trajumas, srotong, gajah ngombe, gajah njerom, dara gepak, klabang nyander, jompongan, kampung semar pinondong, dan jompengan semar tinandu. Bentuk Limasan Sama dengan model kampung, hanya berbeda pada sengkuapnya. Sengkuap merupakan atap tambahan yang ada di belakang atau berada di rusuk rumah. Jika pada atap pada rumah kampung terdiri dari dua sisi yang berbentuk tutup keyong, maka pada rumah limasan, sengkuapnya memiliki empat sisi. Rumah model ini memiliki bentuk segi empat dengan tiang sebanyak empat, enam, delapan, atau lebih. Dalam perkembangannya, rumah limasan juga berkembang menjadi beberapa macam seperti limasan gajah ngombe, limasan pacul gowang, limasan gajah mungkir, limasan gajah njerom, limasan lawakan, dll. Rumah model limasan merupakan bangunan mewah dan megah, contohnya pada Bangsal Prabayeksa, Bangsal Trajumas di Sri Manganti, serta Bangsal Pasewakan di Pagelaran. Rumah Joglo Pada masa itu, rumah jenis ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang berada. Ini karena rumah model ini memerlukan bahan bangunan yang cukup banyak. Selain itu rumah Joglo merupakan rumah tradisional Jawa yang sempurna. Sama seperti rumah adat Jawa yang lain. Model rumah Joglo juga berbentuk segi empat dengan tiang saka guru berjumlah empat buah. Tiang ini ditambah dengan saka panangkap, dan saka rawa, atau ditambah dengan saka-saka paningrat. Model rumah ini juga memiliki atap yang mirip dengan rumah Limasan. model rumah ini terdiri dari bermacam-macam jenis, yakni Joglo jompongan, Joglo lawakan, Joglo wantak apitan, serta Joglo pangrawit (apitan) keraton Surakarta. Bangunan ini sering digunakan pada pendopo kabupaten, kelurahan, rumah para bangsawan, dan sebagainya. Bentuk Tajug Model rumah ini umumnya digunakan pada bangunan suci, seperti masjid dan cungkup makam. Model rumah ini memiliki atap runcing dengan empat sisi. Contoh banguan yang menggunakan model ini adalah Masjid Besar